Kamis, 23 Februari 2017

PERNAHKAH KALIAN MINDER?



Hidup selalu penuh dengan kejutan, hidup selalu mengalami pasang dan surut. Tak semua yang kita impikan akan tercapai dan tak semua yang kita benci akan menghindari kita, namun terkadang kenyataan akan jauh lebih menyenangkan dari ekspetasi kita, Tuhan memberikan sesuatu tang lebih setelah kita mendapti bahwa impian kita hilang begitu saja. Tuhan maha tahu, apa yang kita mau belum tentu yang  terbaik, percayalah semua pasti ada hikmahnya.
Mencoba melawan takdir tak akan berani dilakukan semua orang, tapi takdir disini tak berarti kodrat yang sebenarnya. Orang menyebut kata” Takdir” hanyalah untuk memberikan batasan untuk kita bergerak dan bertindak. Kata- kata oranglah yang sebenarnya menciptakan garis batasan untuk kita. Tapi aku disini mencoba untuk melawan apa yang mereka katakan. AKu memang tak terlihat hebat, menarik ataupun sejenisnya, tapi aku mempunyai tekad bahwa apa yang mereka sebut sebagai mustahil bagiku akan bisa aku kalahkan. Karena bagiku hanya Tuhan yang bisa menciptakan batasan untukku, batasan yang disebut dengan takdir yang sebenarnya. Jodoh, hidup dan mati adalah batasan yang sudah ditetapkan, tak bisa kulawan namun tak bisa aku pasrahkan begitu saja sebelum aku berusaha menggapai yang terbaik, berusaha memperbaiki diri, dan yang terbaik akan datang kepadaku.
Saat orang lain berkata kita tak mampu, itu karena mereka melihat kita dengan mata telanjang, dan yang terlihat adalah kita hanyalah segumpal batu hitam diantara kerumunan mutiara, intan dan berlian. Saat ini aku hanyalah lulusan SMK yang menurut mereka aku hanya pantas bekerja mengandalkan ototku, bukan otakku. Mengepel, cuci baju, memasak, mengangkat barang berat dan hanya melaksanakan apa yang orang lain perintah. Memang tak kupungkiri bahwa memang itu yang cocok untukku saat ini, tapi dak untuk dimasa depan.
Ketika segumpal batu hitam tiba- tiba terlempar dalam kerumunan berlian, yang dia coba lakukan hanya mencoba menutupi dirinya adalah sebuah batu biasa, berusaha berbaur dengan berlian yang lain. Itulah yang aku alami saat seorang bocah kampung ingusan lulusan SMK masuk dalam dunia yang penuh dengan orang berpendidikan tinggi. Minder? Ya. Dan yang kulakukan hanyalah mencoba mengerti apa yang mereka mengerti. Aku berusaha berpikir untuk menyombongkan diriku dalam hati, bahwa aku bisa melakukan apa yang tak bisa mereka lakukan, dan itu  untuk sekedar menenangkan diriku. Katakanlah, bahwa dalam batu hitam tak menutup kemungkinan ada batu mulia yang lebih berharga.
Aku tak dilahirkan sebagai wanita yang mereka bilang sebagai sebutan sangat beruntung, berparas rupawan, cerdas, keluarga kaya raya, tapi aku mempunyai definisi tersendiri dari pada sekedar hal itu. Anggota tubuh lengkap, sehat jasmani dan rohani, bisa baca tulis, dan mampu makan nasi disetiap hari bersama keluarga yang selalu membimbingku di dalam kebaikan.
Bukan wanita cerdas luar biasa, tapi paling tidak ada yang pernah mengatakan bahwa ibuku beruntung mempunyai anak seperti aku, tapi sebenarnya aku yang beruntung mempunyai keluarga seperti mereka. Apa aku pernah merasa iri pada orang lain? Sering, tapi aku tak ingin menyebutnya seperti itu, itu bukan iri, melainkan hanya mengandai dalam batin bahwa jika saja aku bisa seperti mereka.
Disetiap jalan hidupku aku selalu mendapatkan yang terbaik, ya meskipun awalnya aku merasa ini ujian, memang ini ujian, tapi indah. Semua ada hikmahnya. Sesekali aku menggerutu dengan nasibku, tapi disedetik lainnya aku berkata” Untung saja”.
Tak semua yang aku maksud disini kuceritakan dengan gambling, cukup kalian mengerti apa yang aku maksud.
Share jika kalian rasa bermanfaat, terimakasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar