Hidup selalu penuh dengan
kejutan, hidup selalu mengalami pasang dan surut. Tak semua yang kita impikan
akan tercapai dan tak semua yang kita benci akan menghindari kita, namun
terkadang kenyataan akan jauh lebih menyenangkan dari ekspetasi kita, Tuhan
memberikan sesuatu tang lebih setelah kita mendapti bahwa impian kita hilang
begitu saja. Tuhan maha tahu, apa yang kita mau belum tentu yang terbaik, percayalah semua pasti ada
hikmahnya.
Mencoba melawan takdir tak akan
berani dilakukan semua orang, tapi takdir disini tak berarti kodrat yang
sebenarnya. Orang menyebut kata” Takdir” hanyalah untuk memberikan batasan
untuk kita bergerak dan bertindak. Kata- kata oranglah yang sebenarnya
menciptakan garis batasan untuk kita. Tapi aku disini mencoba untuk melawan apa
yang mereka katakan. AKu memang tak terlihat hebat, menarik ataupun sejenisnya,
tapi aku mempunyai tekad bahwa apa yang mereka sebut sebagai mustahil bagiku
akan bisa aku kalahkan. Karena bagiku hanya Tuhan yang bisa menciptakan batasan
untukku, batasan yang disebut dengan takdir yang sebenarnya. Jodoh, hidup dan
mati adalah batasan yang sudah ditetapkan, tak bisa kulawan namun tak bisa aku
pasrahkan begitu saja sebelum aku berusaha menggapai yang terbaik, berusaha
memperbaiki diri, dan yang terbaik akan datang kepadaku.
Saat orang lain berkata kita tak
mampu, itu karena mereka melihat kita dengan mata telanjang, dan yang terlihat
adalah kita hanyalah segumpal batu hitam diantara kerumunan mutiara, intan dan
berlian. Saat ini aku hanyalah lulusan SMK yang menurut mereka aku hanya pantas
bekerja mengandalkan ototku, bukan otakku. Mengepel, cuci baju, memasak, mengangkat
barang berat dan hanya melaksanakan apa yang orang lain perintah. Memang tak
kupungkiri bahwa memang itu yang cocok untukku saat ini, tapi dak untuk dimasa
depan.
Ketika segumpal batu hitam tiba-
tiba terlempar dalam kerumunan berlian, yang dia coba lakukan hanya mencoba
menutupi dirinya adalah sebuah batu biasa, berusaha berbaur dengan berlian yang
lain. Itulah yang aku alami saat seorang bocah kampung ingusan lulusan SMK
masuk dalam dunia yang penuh dengan orang berpendidikan tinggi. Minder? Ya. Dan
yang kulakukan hanyalah mencoba mengerti apa yang mereka mengerti. Aku berusaha
berpikir untuk menyombongkan diriku dalam hati, bahwa aku bisa melakukan apa
yang tak bisa mereka lakukan, dan itu untuk sekedar menenangkan diriku. Katakanlah,
bahwa dalam batu hitam tak menutup kemungkinan ada batu mulia yang lebih
berharga.
Aku tak dilahirkan sebagai wanita
yang mereka bilang sebagai sebutan sangat beruntung, berparas rupawan, cerdas,
keluarga kaya raya, tapi aku mempunyai definisi tersendiri dari pada sekedar
hal itu. Anggota tubuh lengkap, sehat jasmani dan rohani, bisa baca tulis, dan
mampu makan nasi disetiap hari bersama keluarga yang selalu membimbingku di dalam
kebaikan.
Bukan wanita cerdas luar biasa,
tapi paling tidak ada yang pernah mengatakan bahwa ibuku beruntung mempunyai
anak seperti aku, tapi sebenarnya aku yang beruntung mempunyai keluarga seperti
mereka. Apa aku pernah merasa iri pada orang lain? Sering, tapi aku tak ingin
menyebutnya seperti itu, itu bukan iri, melainkan hanya mengandai dalam batin
bahwa jika saja aku bisa seperti mereka.
Disetiap jalan hidupku aku selalu
mendapatkan yang terbaik, ya meskipun awalnya aku merasa ini ujian, memang ini
ujian, tapi indah. Semua ada hikmahnya. Sesekali aku menggerutu dengan nasibku,
tapi disedetik lainnya aku berkata” Untung saja”.
Tak semua yang aku maksud disini
kuceritakan dengan gambling, cukup kalian mengerti apa yang aku maksud.
Share jika kalian rasa bermanfaat, terimakasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar