Sabtu, 17 September 2016

RUMPUT TETANGGA SELALU TAMPAK LEBIH HIJAU

Kita tak bisa memilih, tak bisa menciptakan sediri jalan cerita kehidupan kita. Tak bisa menentukan, dimana kita lahir, siapa orang tua kita, kaya atau miskin, terlahir rupawan atau biasa saja. Andai saja kita bisa menulis sendiri cerita kehidupan, pasti semua orang dan semua makhluk akan menuliskan kisah yang selalu bahagia untuk dirinya, keluarga yang harmonis, wajah rupawan, harta yang berlimpah dan berbagai imajinasi kehidupan yang serba indah. bukankah Anda juga berpikir demikian? karena begitulah dengan saya.

Namun Tuhan maha adil dan telah merencanakan semua, syukuri saja apa yang Tuhan gariskan. Bayangkan jika didunia ini semua orang terlahir kaya, semua jadi bos, lantas siapa yang akan bekerja pada kita. Jika semua orang tercipta bahagia, maka justru kita tak akan tau apa itu bahagia, apa tolok ukur sebuah kebahagiaan.

Pernahkah kamu merasa bahwa hidupmu menderita? merasa kau hidup teraniaya? merasa menjadi  orang yang sengsara dengan hidup pas- pasan? dan disaat itulah kau akan melihat bahwa rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau. Namun coba saja kau pergi kedalam pekarangan tetanggamu, maka kau akan melihat tempat lain, bahkan pekaranganmu sendiri yang lebiih hijau. Ini hanya sebuah istilah yang sudah lama dikenal, yang berarti bahwa seringkali saat kita tak bisa mensyukuri nikmat yang Tuhan berikan kepada kita, maka pikiran cenderung merasa iri akan kehidupan orang lain yang terlihat lebih baik dari kita, padahal tak kita ketahui betapa mereka memperoleh kebahagiaan itu dengan susah payah. Bahkan tak jarang justru mereka mempunyai kegundahan hidup yang lebih besar. Pernahkah Anda menginginkan kehidupan orang lain? padahal banyak diluar sana yang menginginkan kehidupan Anda.

Disini saya akan berikan sedikit pengalaman hidup saya, entah bagaimana pandangan Anda tentang ini.
 cekidot.........


Sekitar tahun 2010, saya lulus dari salah satu SMP  di desa. Nilai saya tak terlalu buruk, bahkan bisa dibilang lumayan, cukup untuk membuat bapakku naik panggung dengan senyum bangganya. Terlepas dari itu, saya bukanlah lahir dari keluarga yang kaya, untuk melanjutkan ke SMK pun rasanya cukup berat bagi kedua orang tuaku. Karena didesaku tak ada SMA sederajad yang saya minati, akhirnya orang tuaku menyetujui untuk menyekolahkanku ke SMK yang letaknya beda kecamatan dengan tempat tinggalku. Banyak sahabat dan kawan dikelas yang menyarankanku untuk melanjutkan ke kota (kabupaten) yang terbilang kualitas sekolahnya cukup bagus, mereka bilang saya pasti diterima, bahkan sempat sesekali mereka memuji dan mengatakan betapa bahagianya jadi aku, bahkan saya ingat, ada yang memanggil saya " Bu Jen", kalian tau artinya? (meskipun sekarang saya sadar saya tak lebih pintar dari mereka, karena terbukti saya tak bisa mendapatkan beasiswa  itu). Tapi pada kenyataannya, bermodalkan otak yang sedikit pintar tak cukup untuk membiayai sekolahmu, kecuali kau sangat pintar atau kalau kau beruntung, karena itu yang saya alami. 
Sekolah jauh dari orang tua, tinggal di kost an yang sempit dan sederhana dengan uang saku yang tak banyak, Ya, itulah yang terjadi, kenyataan yang sudah saya maklumi. Namu beban yang membuat tidak konsentrasi belajar adalah saat ku harus melihat orang tua berusaha menyembunyikan kebingungan mereka untuk membayar uang sekolahku, seragam, uang saku. Itulah mengapa seringkali saya tidak pulang dihari libur, Sabtu atau Minggu, karena diwaktu saya akan kembali ke kost an, disaat itu pula mereka kerepotan mencari uang saku. Ditambah lagi saat itu saya tak mempunyai motor sendiri, terpaksa harus nebeng tetangga atau teman, sungguh malu rasanya, bukan karena gengsi tapi karena sungkan jika harus selalu merepotkan. Semakin lama saya memilih untuk naik angkutan umum, didesaku hanya ada bis kecil dan mobil pengangkut barang dagangan pasar. Tak ada bis yang langsung mengarah ke sekolah, mau tidak mau harus turun dan ganti bis sebanyak tiga kali, itupun kalau ada. Jika tak ada, terkadang saya menumpang diatas truk barang dagangan penjual yang baik hati memberi saya tumpangan. Mengenakan seragam putih abu- abu, membawa ransel berisi buku dan sepasang baju, duduk diatas karung besar, bahkan kambing dan perkakas lain, menikmati jalanan yang kutempuh sekitar setengah jam dibawah terik matahari, diperhatikan orang- orang disepanjang jalan. Dijahili, dipermalukan itu sudah menjadi hal biasa dijalanan. Disinilah saya mulai merasa bahwa kehidupan akan jauh lebih indah jika saya jadi mereka, mereka para teman sekolah yang bisa pulang pergi semaunya dengan sepeda motor pribadi, mereka yang jajan dengan puasnya, dan juga fasilitas yang sangat menunjang pelajaran. Disaat yang lain menyelesaikan tugas sekolah dengan laptop pribadi, saya harus berjalan kaki puluhan meter untuk sampai ke warnet.


Memang nafsu dan ambisi manusia tak akan ada habisnya, syukuri saja hidup ini, syukuri setiap detik nafasmu, syukuri semua pandangan indah dimata kita, syukuri apapun yang kita miliki, karena tak semua orang merasakan kebahagiaan yang kau rasakan. Jangan berkonsentrasi pada kekuranganmu, tapi lihatlah juga kebahagiaan yang mengelilingimu.
Seperti kata orang bijak, tak masalah terlahir miskin, yang masalah adalah saat kau mati  miskin. Karena hidup ini untuk diperjuangkan bukan untuk dibiarkan.

Akhirnya, tak terasa sudah lumayan bertele- tele tulisan saya, sekian, bila ada kurangnya saya minta maaf dan sangat butuh saran kalian. Terimakasih telah berkunjung ke blog saya.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar